Dalam menilai kiprah media massa termasuk radio paling tidak perlu diingat tiga hal. Pertama, pendidikan dan komunikasi politik belum mencakup keseluruhan fungsi media komunikasi massa; ada fungsi lain dari media massa yang tidak kalah pentingnya bagi masyarakat, malah kadang kadang mungkin lebih menonjol dan diprioritaskan. Kedua, media massa bukanlah sekedar penyalur lalu lintas informasi yang hanya mengutamakan idealisme sosial tetapi telah berkembang menjadi suatu industri yang harus memperjuangkan keberadaannya sendiri. Ketiga, kemampuan dan kinerja media massa mempunyai kaitan yang sangat erat dengan masyarakat yang dicerminkannya. Masyarakat itu berkembang dan berubah, membawakan perubahan terus menerus pada dunia media massa.

Fungsi Media Komunikasi

Fungsi dan peranan media massa yang pernah disebut dalam masyarakat kita cukup beraneka ragam, mencerminkan harapan dan keinginan politis yang berubah dari zaman ke zaman terhadap komu nikasi massa, umpamanya radio sebagai alat perjuangan atau alat revolusi, media pembangunan, pers Pancasila, dsb. Namun dari segi kajian komunikasi maka fungsi media massa (tidak terkecuali media radio) pada intinya tidak banyak berubah semenjak dahulu. Fungsi pokok ini meliputi pengamatan atau pengawasan lingkungan (sur veillance of the environment), korelasi dari berbagai bagian masyarakat guna menciptakan konsensus, sosialisasi atau pewarisan budaya dan fungsi hiburan.2

Fungsi fungsi ini tidak selalu dapat dijalankan sekaligus. Salah satu diantaranya mungkin mendapat prioritas utama oleh suatu media pada suatu ketika, sehingga meng abaikan fungsi lainnya. Bila fungsi hiburan yang diutamakan, misalnya, maka komunikasi yang memenuhi fungsi pengamatan tidak akan mungkin dijalankan dengan efektif. Efektivitas media dalam mengkomu nikasikan suatu substansi ikut diten tukan oleh fungsi yang diutamakan media yang bersangkutan.

Fungsi radio yang sering diutamakan adalah fungsi yang pertama. Bagi masyarakat, fungsi pokok radio dari waktu ke waktu radio adalah sebagai sumber informasi serta sarana komunikasi untuk mengamati perubahan lingkungan yang langsung dapat mempengaruhi kehidupan khalayak pendengar. Media ini dapat didengarkan kapan saja, di mana saja, sehingga dapat memberi tahukan perubahan keadaan terakhir secara cepat. Makin tidak menentu keadaan, makin tinggi rasa ketidakpastian, makin ramai isu, makin cepat perkembangan, makin lengket pula pendengar dengan radionya seperti yang terjadi pada waktu maraknya demo dan kerusuhan, ketika menghadapi datangnya bahaya bencana alam, atau saat ramainya isu tentang gejolak mata uang dan likuidasi bank. Masyarakat ingin mendapat informasi untuk mengambil langkah guna mengamankan diri, keluarga, harta dan hal hal yang dianggapnya penting. Dalam keadaan yang lebih tenang, fungsi ini (disebut juga fungsi informasi) tetap diperlukan khalayak, yang ingin mengetahui datangnya berbagai peluang dan kesempatan baru di samping potensi ancaman, gangguan atau berkurang nya kenyamanan yang dapat muncul sewaktu waktu.

Fungsi kedua, pengembangan konsensus melalui media massa, biasanya mengemuka pada waktu timbulnya perkembangan ke arah perubahan. Setelah mendapat informasi tentang perkembangan baru yang dianggap penting, masyarakat membicarakannya dari berbagai segi serta menelaah implikasinya bagi mereka. Secara formal khalayak bertukar pikiran melalui media atau tanpa media namun dirangsang oleh media dan mencoba mencari kesepakatan : apa perlu reaksi bersama, dan kalau demikian apa yang harus dilakukan. Kesepakatan ini tidak hanya tentang soal yang serius seperti masalah politik, tetapi dapat juga yang sepele. Seribu satu hal, termasuk nilai sosial budaya tentang apa yang baik dan buruk, gaya hidup baru, fesyen, penyakit, cuaca, dsb., disepakati melalui wacana media radio. Radio berfungsi sebagai media pembentuk konsensus, misalnya dengan melaporkan trend yang menarik ditiru atau makin luas diterapkan, berulang ulang memainkan lagu baru yang paling populer (Top Ten) pada suatu waktu, menyiarkan rangkaian diskursus yang menuju kepada kesamaan pendapat, dsb. Atau sebaliknya, media massa dapat juga memainkan peranan secara disfungsional, misalnya dengan mengabaikan pendapat yang berbeda yang datang dari orang lain, dan dengan cara begitu melakukan manipulasi untuk menimbulkan persepsi mengenai tercapainya kesepakatan bersama.

Terkait erat dengan konsensus adalah sosialisasi. Secara ringkas, sosialisasi adalah fungsi pendidikan dalam arti kata yang luas. Media massa meneruskan apa yang telah disepakati, baik yang baru maupun yang lama. Kesepakatan lama yang telah menjadi warisan budaya termasuk pengalaman bangsa, nilai nilai tradisional, adat istiadat, dsb, dimuat media untuk memper lengkapi pengetahuan generasi muda dan mengingatkan generasi tua. Yang baru disosialisasikan untuk mengukuhkan dan mengajarkan konsensus yang baru diputuskan.

Kita tentu masih ingat bahwa pada masa permulaan dari setiap media massa, sosialisasi adalah fungsi yang paling penting. Program radio tahun 1950 an, umpamanya, sarat dengan muatan pendidikan bahkan banyak acara siaran yang praktis tidak ubahnya dengan pelajaran seperti di sekolah. Keadaan sudah berbeda. Fungsi pendidikan kini makin berkurang dilaksanakan, digantikan oleh fungsi keempat, yaitu hiburan.

Trend ke depan akan lebih meningkatkan fungsi hiburan. Perkembangan zaman yang kian kompleks, dengan tempo yang makin tinggi,penuh perubahan dan tuntutan berat (demanding),menimbulkan kejenuhan dan tekanan hidup yang harus diimbangi dengan hal hal yang lebih ringan, yang dapat mengurangi ketegangan, menimbulkan inspirasi baru, atau membuka kesempatan �pelarian� sesaat guna menyegarkan diri dan mengembalikan keseim bangan. Begitu rupa pentingnya hiburan dewasa ini, sehingga pendidikan dan informasi melalui media massa terutama radio dan teve makin cenderung digabungkan (konvergen) dengan hiburan, berkembang ke arah bentuk komunikasi baru infotainment dan edutainment. Komunikasi bunglon ini memudahkan penerimaan pesan tetapi sebaliknya dapat mengurangi efektivitas komunikasi khalayak penerima mungkin lebih menyerap muatan hiburannya ketimbang muatan informasi yang dikomu nikasikan.

Dari uraian di atas, jelas terlihat bahwa tekanan atau pengutamaan pada suatu fungsi dapat mengurangi pelaksanaan fungsi yang lain. Masing masing fungsi dapat menjadi kendala atau dikendalai oleh pelaksanaan fungsi yang lain. Dengan kata lain, efektivitas sesuatu fungsi komunikasi dapat dipengaruhi atau berkurang oleh fungsi lain.

Media sebagai Industri

Perkembangan fungsi komuni kasi dan efektivitas tersebut dipengaruhi lebih lanjut dan sejalan dengan perubahan fungsi media massa tidak terkecuali radio sebagai institusi dalam masyarakat. Radio sebagai media komunikasi massa boleh dikatakan lahir secara �kebetulan.� Mulanya sebagai pengembangan hobi amatir menjadi institusi pelayanan sosial; ia memanfaatkan kemampuan lebih dari prasarana navigasi untuk memberikan informasi tentang cuaca, bahaya alam, dan keadaan darurat. Ketika ternyata efektif untuk komunikasi informasi dalam masyarakat, radio berkembang menjadi institusi sosial dan politik yang lebih resmi, digunakan sebagai media komunikasi politik nasional dan internasional. Fungsi sebagai institusi resmi inilah yang mewarnai peranan radio secara dominan hampir di seluruh dunia, kecuali di negara demokrat Barat, selama waktu yang cukup panjang. 3

Dengan perkembangan politik dan ekonomi global sejak 15 20 tahun terakhir, media radio mengalami perubahan institusional, bergeser dari institusi sosial politik yang resmi menjadi institusi komunikasi swasta yang dimiliki masyarakat. Radio berkembang menjadi bagian dari industri komunikasi yang dikelola dan diatur sebagai layaknya unit ekonomi. Faktor yang menentukan makin lama makin lepas dari pemerintah atau kelompok politik, beralih ke kekuatan bisnis dan ekonomi pasar. Radio bukan lagi merupakan media komunikasi sosial yang lebih mengutamakan nilai nilai dan idealisme sosial politik dalam menentukan muatan komunikasi yang hendak dibawanya kepada masyarakat. Melainkan suatu industri yang kebetulan saja bergerak dalam produksi informasi massa, dan dengan demikian harus lebih mengutamakan faktor faktor �baru� yang menentukan kelangsungan hidupanya seperti modal dan keuntungan, pangsa pasar, selera konsumen, persaingan, serta trend global.

Pertimbangan ekonomi itu tercermin pula pada perkembangan ciri ciri dan peranan media radio akhir akhir ini. Sebagai akibat dari persaingan yang kian sengit dalam memperebutkan pasaran dan iklan industri mulai �berkembang� sebagai institusi lokal. Peranan, muatan, dan sifat siaran makin ditujukan kepada daerah yang terbatas, untuk memenuhi fungsi media bagi konsumen dengan budaya dan sifat yang makin khusus. Kecenderungan ini bukan saja terjadi karena persaingan antar stasiun radio pada tataran nasional tetapi juga mulai merambah pada tataran global, baik karena munculnya saingan dari televisi global tetapi di masa depan makin meningkat berkat kemajuan teknologi.4

Lebih dari itu trend perkem bangan radio akan makin menuju kepada segmentasi yang bertambah tinggi, dengan khalayak sasaran yang makin selektif, dengan ciri demografis dan budaya komunikasi yang semakin tajam. Radio makin merupakan media yang bersifat personal dan mobil, menemani pendengar setianya kemanapun dia pergi nanti bukan saja terbatas pada wilayah siaran tertentu tetapi juga keluar negeri melalui fasilitas online.

Perkembangan seperti itu akan banyak pula dipengaruhi oleh dinamika perubahan masyarakat yang sedang terjadi secara luas. Baik dalam perilaku, gaya hidup, maupun kebutuhan informasi.

Pendidikan dan Komunikasi Politik

Apa implikasi uraian di atas terhadap pendidikan dan komunikasi politik? Seperti telah dikemukakan terdahulu, fungsi radio sebagai media pendidikan akan makin terbatas, disaingi oleh fungsi lain yang lebih mendesak. Fungsi pendidikan memang masih penting, tetapi dalam pelaksanaannya akan makin bercam pur dengan fungsi hiburan dalam bentuk baru sebagai �dikbur� atau edutainment.

Khusus mengenai komunikasi politik, bentuk komunikasi ini sebenarnya termasuk ke dalam beberapa fungsi lain, terutama pengembangan konsensus. Di samping itu juga tercakup dalam fungsi sosialisasi dalam hal pendidikan politik.

Dalam menelaah komunikasi politik melalui media massa kita dapat melihat dari dua sudut : (a) komunikasi tentang politik dan (b) komunikasi untuk politik. Komuni kasi tentang kehidupan politik memberikan pengetahuan kepada umum tentang perkembangan politik, termasuk pendidikan politik. Misalnya untuk menanamkan kesadaran hidup berbangsa dan bernegara, menjelaskan kebijakan dan masalah politik agar masyarakat dapat menentukan sikap, meningkatkan partisipasi politik seperti dalam Pemilu, atau mengembangkan budaya demokrasi dan prinsip prinsip masyarakat madani. Dalam hal ini permasalahan yang dihadapi tidak jauh berbeda dari masalah sosialisasi.

Komunikasi untuk mencapai tujuan politik mempunyai sifat yang berbeda. Dalam hal ini, komunikasi bukasn sekedar sosialisasi tetapi merupakan upaya persuasi untuk memanfaatkan konsensus. Tujuan komunikasi dalam hal ini adalah untuk mempengaruhi arah kebijaksanaan pemerintah atau pembuatan peraturan perundang undangan, perubahan sistem bahkan struktur negara, membangkitkan dukungan masyarakat, menciptakan pressure (penekan) guna kepentingan sendiri, kelompok, atau partai politik, mengubah persepsi politik masyarakat, mendapatkan akses politik. Tujuan komunikasi politik yang paling dasar meskipun tidak selalu mau diakui, adalah untuk memperoleh kekuasaan politik (power) bahkan kadang kadang ada yang dilakukan dengan menghalal segala cara, termasuk yang tidak demokratis melalui perebutan kekuasaan dengan cara kekerasan. Radio (dan media siaran lain) mempunyai potensi yang kuat dalam hal ini, sebagai terlihat pertarungan politik, misalnya, coup d�etat selalu dimulai dengan merebut/menduduki stasiun radio (sekarang juga TV).

Meskipun memang dapat dimanfaatkan bahkan disalah gunakan untuk kepentingan politik yang bersifat sepihak dari sautu golongan saja, tentu perlu diingat bahwa betapa pun juga radio mempunyai tanggung jawab sebagai media komunikasi kepunyaan seluruh masyarakat. Walaupun media ini sudah merupakan industri, tanggung jawabnya tidak berkurang karena sebagai media penyiaran radio mempergunakan frekuensi yang menjadi sumber alam milik bersama dari seluruh masyarakat (public domain).

Di samping itu watak khusus radio yang dijuluki Marshall McLuhan sebagai �media panas� (hot media) menuntut tanggung jawab pengelolaan yang lebih hati hati dari penyelenggara siaran. Berbeda dari media cetak, yang dapat dirujuk dan dibaca berulang ulang oleh khalayak, komunikasi radio merupa kan proses yang sangat dinamis. Sekali didengar dan diinterpretasikan secara salah apa lagi kalau langsung diikuti reaksi fisik, tidak ada lagi kesempatan untuk menelaah, menguji atau meralatnya.

Terlepas dari hal itu, kendala yang dihadapi komunikasi politik melalui radio tidak berbeda dari hal hal yang telah disebutkan terdahulu. Walaupun dapat dengan mudah �membakar� khalayak, sifatnya yang makin tersegmentasi, lokal, penuh persaingan dan personal, menghen daki perencanaan yang matang apabila hendak dipakai untuk komunikasi politik besar besaran katakan umpamanya untuk kampanye Pemilu. (Berapa banyak stasiun, yang mana di lokasi seperti apa yang harus dilibatkan, dengan ragam versi pesan serta gaya komunikasi yang khas yang seperti apa, yang harus dipersiapkan untuk mencapai seluruh calon pemilih).

========================================
Pengirim : fuaida / idh4
========================================

Ayo di share di ...Share on Facebook0Pin on Pinterest0Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on LinkedIn0Email this to someone