Puisi F. Aziz Manna

Musim Gugur I (1) Jalan ini masih sama. rumah rumahnya juga masih sama ketapang tua di pagar aribang itu kudengan suara kersiknya desah desah mereka rantingmu yang patah (2) ketapang…

Sesaat Sebelum Bergerak

Dalam jenak waktu ketermenunganku Tatap auraku berkelebat disela dedaun Menjelma dalam wujud tanpa batas Aku terlelap berlindung dibalik kegelisahan Menanti burung menjauh dari sangkarnya Kan kuiikuti kemana perginya Mungkin pula…

Kubertanya

Kadang kubertanya pada rembulan apa jadinya kelak bangsaku percaya pada mistik dan tahyul takut pada jin dan hantu takut pada tuyul dan kuntilanak takut berusaha takut pantangan alasannya hormatin leluhur…

Pengamen Jalanan

Dua malam lalu saat langit gelap seorang pengamen berjalan selusuri lorong lorong sempit ibukota pulang Tak banyak yang dibawa sebuah gitar tua sebotol akua uang sepuluh ribu dalam recehan 200…

Kala Gelap Menghadang

Kala malam datang kala mata tak mampu berkarya terhalang lebatnya gelap jangan menyerah walau sekejap jangan katupkan walau sedetik Berilah mata si hati nurani jangan diamkan dalam sunyi biarkan dia…

Retorika

Jangan pernah kau menanyakan tentang retorika itu. Mulutku diriku selalu tertutup menyimpan jawaban Induk burungpun bersenandung rasa rindu. Sepanjang waktu mentari menampakkan wajah bahagia. Hangat menyelimuti permukaan permadani bumi. Lupakan…

Penggali sumur

Mungkin sudah nasib. Aku harus mewarisi keahlian ini. Keahlian yang telah turun temurun dalam silsilah keluargaku. Namun sungguh aku tak pernah sedikit pun menyangka warisan itu memilih tubuhku. Pernah aku…

Lelaki di Bundaran HI

Di Bundaran Hotel Indonesia ada seorang laki laki berpakaian compang camping duduk di tepi kolam. Bajunya berwarna putih dekil (apakah dekil termasuk dalam kategori warna?). Celana cutbrainya robek robek mulai…

Munafik

Entah rasa apa yang ada pada diruiku… Untuknya… Rasa cinta… Ah tidak mungkin… Cintaku telah berlabuh dan kini tak bisa berjalan Sampai ada orang mengendarainya Rasa sayang…. Ah tidak mungkin……