Aku pikir aku memang ada di sana. Di kerumunan orang orang itu. Aku terburu buru berjalan seperti dikejar hantu. Pasir layung padat. Karangan karangan bunga di sekelilingku. Kulihat semua menangis, aku menangis, kawan kawanku menangis. Dan Royan, Hafidin Royan kawanku terbaring. Aku tidak mengenal dia, hampir tidak mengenalinya.
Tapi aku menangis, teman temanku menangis. Karangan karangan bunga berjajar. Bandung panas. Aku kepanasan, tapi tetap berdiri menghadap gundukan tanah. Terbaring disana, seorang yang tidak bersalah. Ku dengar lamat lamat deru ojek meraung raung. Mengantar seorang demi seorang. Masih banyak yang datang dan terus banyak yang datang. Aku tidak mengenal wajah wajah itu, mereka tidak mengenal aku. Wajah kami sama jelek, marah, merah, dan berduka. Tidak ada yang tertawa.
Demi langit dan bumi, aku tidak menangisi kematian anak muda itu. Hari ini sudah enam tahun, berlalu. Aku masih menangis di kamarku yang sepi. Bergegas aku menuju tempatku bekerja. Talkshow di radio sibuk berbicara tentang kejadian enam tahun yang lalu. Aku mendengar dan aku mulai menangis. Aku mengaku sebagai orang yang kalah. Bertahun tahun ke telan kekalahan itu. Bersama buku buku yang ku tumpuk di dalam kardus kardus di gudang. Sudah tak lagi ku sentuh lagi, ada poster poster yang terpaksa turun dari dinding. Ada hati yang hampa.
Aku melangkah ke luar. Seperti biasa pemuda di ujung jalan bersuit. Mungkin ia suka padaku, mungkin hanya menggoda, mungkin tidak ada kerja. Lalu lintas padat. Kawanku wartawan perkirakan akan ada demo besar hari ini. Ia mengomel bahwa bahkan presiden akan datang menjengung kampus yang menjadi lahan pembantaian itu. Ah Tahun tahun berlalu. Ia tidak pernah kesana. Presiden itu hampir menyelesaikan ceritanya, apa yang ia harapka dengan berkunjung ke semanggi. Apakah ia ingin dikenang seperti ayahnya? Maaf tidak ada tempat baginya di sisi keagungan ayahnya. Maaf�
Aku duduk di depan komputer. Tidak ada yang bisa kukerjakan. Tidak satu lembarpun. Tidak satu katapun. Aku mulai membuat cerita. Ini cerita karang karangan. Asal muasal dari sebuah kesedihan. Lalu aku bertanya, �terbuat dari apakah kesedihan?�
Ketika semua rasa membuat dada hampir meledak. Tersengal sengal dan mengalirkan dua anak sungai yang mencair. Menjadi kesunyian. Sajak malam yang terpotong oleh dinginnya. Aku ingat Bandung, aku ingat dimana terakhir Hafidin Royan disemayamkan. Aku menitikan air mata. Demi Tuhan aku tidak menyesali kematian. Kematian adalah proses alamiah, lahir � tumbuh � mati. Seperti halnya jatuh cinta � berbunga bunga � dan perpisahan.
Lalu terbuat dari apakah kesedihan? Ketika itu sang anak baru melangkah dewasa. Ia memutuskan untuk pergi. Pergi dari rumah kedua orang tuanya. Ia berkata, aku ingin menjadi aku. Aku bukan kalian, ayah dan ibu. Jika kalian berterima kasih pada Soeharto, karena hidup yang damai dan menyebutnya �Bapak Pembangunan�. Maka sang anak lebih suka mengatakan. Soeharto Anjing, ia orang yang pandai, dan beruntunglah ibu bapak mendapat berkatnya. Hidup bahagia, tidak seperti gelandangan di jalanan, tukang becak, atau petani yang tanahnya di dor oleh tentara. Tidak ibunda, ananda tidak punya bukti, dan ananda tidak keberatan jika ibunda bilang ananda berdusta. Ananda keblinger, ananda tidak tahu apa apa tentang hidup.
Maka sang ananda duduk disini, dan aku masih melihat dia. Terkurung dalam masa lalu yang kelu, masa kecilnya yang indah dan masa remajanya di jalanan, lalu masa kini nya terjerembab oleh bayangan tentara di dinding. Di dinding ruang kelas sekolahan, di dinding perkantoran, di dinding ruang ruang pejabat. Maka ia menarik nafas, ah bunda Haruskah kalah lagi? Ananda sudah terbiasa menghadapi kekalahan. Tergilas roda industri dan persaingan. Tergilas��
Maka aku melihat wajah ananda di cermin itu. Dan aku berteriak,�Diancuk Aku tidak pernah menangisi kepergiannya� tetapi kenapa sia sia?�
Bintaro 12 May 2004
========================================
Pengirim : enna
========================================