Nining keluar dari rumahnya dengan wajah muram. Ia baru saja mendapat marah
dari ibunya. Soalnya sepele saja. Ia lupa lagi pada janiinya untuk memperbaiki
bajunya yang lepas jahitannya.
dannbsp;Nining seolah olah mendengar kembali berbagai perkataan yang baru saja
keluar dari mulut ibunya. Betapa banyaknya, seolah olah tiada
habis habisnya.dannbsp;
Nining melangkah dengan lesu menuju rumah sebelah. Ia biasa “melarikan diri” ke
sana jika habis mendapat marah. Sebab di sana tinggal sahabat karibnya, Retno.
Ketika kakinya mulai menginjak batu batu kerikil di halaman rumah Retno, Nining
berusaha untuk membuat mukanya sejernih mungkin.
“Malu kalau Retno menduga dengan tepat,” kata hatinya.
“Retno ” Nining memanggil. Tak ada jawaban.
“Retno.” Nining mengulang lebih keras. Hanya desir daun jambu di halaman yang
menjawabnya. Nining berdiri di ambang pintu dengan ragu ragu. Setiap kaliia
bermain ke sini, ia tak pernah mengetuk pintu.
“Ah, seperti tamu saja,” ujarnya sewaktu Retno menanyakan hal itu.
Nining sudah hampir menggerakkan tangannya, ketika jendela di sampingnya
terbuka dan seseorang melompat keluar. Beberapa saat lamanya Nining terpaku di
tempatnya, sampai Retno menggoyangkan lengan kanannya.
“Kenapa kau Nining? Seperti melihat hantu saja,” kata Retno tak bisa menahan
tawa. Nining menggerakkan kepalanya dengan heran.
“Sudah sebesar ini kau masih suka meloncat jendela, Retno”.
Lalu ia melanjutkan dalam hatinya: “Kalau aku pasti sudah ditegur Ibu, atau
dijewer perlahan sambil pura pura marah”.
Didengarnya Retno tertawa. Di antara tawanya terdengar ia berkata: “Kenapa kau
heran? Dengar ya. Aku akan melakukannya terus sampai ada undang undang yang
melarang hal itu.”
Sekali lagi Nining heran. Tawa itu terlalu keras bagi seorang anak perempuan.
Kalau ia di rumahnya sendiri, pastilah ibu akan membuatnya tersipu sipu dengan
mengatakan: “bagus sekali caramu tertawa.”
“Ayo masuk. Kenapa berdiri saja di situ? Hari ini kau agak lain dari biasanya.
Mungkin ada yang ketinggalan dirumah, ya. Hidungmu barangkali?” Kata Retno
bertubi tubi. Lalu tanpa menanti jawaban Nining, ia menyeret sahabatnya ke
ruang tamu.
Mereka duduk berdampingan. Retno segera mulai bercerita. Banyak sekali yang
diceritakannya. Hampir semuanya lucu lucu.
Sesudah ceritanya berakhir Retno tertawa terkekeh kekeh. Nining anya tersenyum
saja.
“Sebenarnya ada apa dengan kau?” tanya Retno tiba tiba.
Wajahnya yang bulat telur berubah menjadi sungguh sungguh.
Nining tertegun sesaat menerima pertanyaan yang tak terduga itu.
Memang begitulah Rento. kadang kadang ia seperti seorang yang tak pernah serius
seumur hidupnya. Kadang kadang pula ia menajdi sangat bersungguh sungguh dalam
membicarakan sesuau hal.
“Aku dimarahi ibuku,” sahut Nining akhirnya.
Retno mengernyitkan keningnya, “Apa sebabnya?”
Nining menceritakan apa yang dialaminya dengan singkat.
“Kalau cuma begitu sebetulnya kau tak perlu merasa kesal, kata Retno kemudian.
“Memang kadang kadang ibuku cerewet,” kata Nining perlahan. “Ibu suka
marah marah.””Tapi tidak selamanya begitu, kan?” suara Retno merendah.
Nining berpaling dan ia melihat bahwa mata sahabatnya menjadi suram. Sebelum
Nining berkata kapanpun didengarnya Retno berkata:
“Kamu beruntung masih mempunyai Ibu, Ning. Masih ada yang memperingatkan kau
bila kau melakukan kesalahan.”
Nining mengambil tangan sahabatnya.
“Maafkan aku,” katanya terharu.
Retno menatapnya. Nining melihat kesedihan dalam matanya. Tapi Retno menutupnya
dengan senyum.
“Ah tidak apa apa,” sahutnya.
“Aku jadi teringat ini,” lanjut Retno sambil menunjuk dadanya. Nining melihat
susunan renda putih yang tak teratur lagi. Dua baris di atas masih berada di
tempatnya. Yang lain sudah lepas jahitannya, terjulai ke bawah. Memang tidak
sedap dipanang mata.
“Waktu Ibu masih ada…,” Retno terdiam.
Namun Nining sudah mengerti kelanjutannya: “Ibu yang akan menjahit ini.”
Ketika Nining melangkah menuju rumahnya pikirannya dipenuhi oleh berbagai
persoalan.
“Kalau aku tak punya ibu sejak kecil, mungkin aku seperti Retno. Suka melompat
jendela dan tertawa keras keras. Sering pakai baju abangnya dan senang bangun
siang.”
Dan Nining teringat kembali pada kata kata Retno: “Masih ada yang
memperingatkan kau bila kau melakukan kesalahan.”
Bukankah ini merupakan suatu keuntungan besar?
“Dari mana saja kau, Ning?” terdengar Ibu menyapa ketika Nining memasuki pintu.
“Dari rumah Retno, Bu,” sahut Nining ramah.
Ia tersenyum ke arah ibunya. Dilihatnya Ibu juga tersenyum.
Tak ada lagi perasaan kesal di hati keduanya.
========================================
Pengirim : Conan
========================================